Pengikut

Senin, 30 Maret 2020

Kelas

KELAS

"Aku tak boleh menangis," ucap Dinar lirih pada dirinya sendiri. Hampir satu jam ia berdiri di pojok depan ruang kelas. Ini bukan tentang pegal dan kesemutan di kakinya, tapi tentang cemooh dan tatapan sinis teman-temannya. Juga sindiran halus Bu Rina, guru PPKn, yang menjelma sembilu di telinganya.

Sederhana saja, di awal pelajaran Bu Rina meminta anak-anak untuk menceritakan bagaimana mereka melakukan adab masuk rumah. Dinar menceritakan apa adanya yang biasa ia lakukan. Tak ada dibuat-buatnya, karena jujur adalah segalanya, seperti yang ditanamkan orang tuanya, pun Bu Rina dan guru-guru lainnya.

Ketika murid lain bercerita tentang bagaimana mereka berucap salam dan mengetuk pintu saat masuk rumah, Dinar hanya masuk saja dan kemudian berganti pakaian lalu keluar lagi. Sayang disayang cerita dipenggal oleh bentakan keras Bu Rina yang tegas mengatakan telah gagal mendidiknya tentang adab dan etika. Dinar tak diberi kesempatan untuk menjelaskan tentang rumah kardusnya yang ditertibkan satpol PP, berpindah di kolong jembatan, dan hanya bertemu orang tuanya menjelang petang karena memulung seharian. Dinar kalah, air matanya terjatuh diiringi tawa teman sekelas dan tatap tajam mata Bu Rina.

Yogyakarta, Januari 2020

Naksir Janji Traktir

#Belajar_Pentigraf

Naksir dan Janji Traktir

Pernah kau berjanji kemudian tertancap di ulu hatiku. Saat itu dirimu dengan sadar mengajakku ke sana. Di suatu tempat yang kau kira dapat dengan leluasa memberimu kesempatan.

Aku takkan lupa. Tak pernah lupa. Namun kau selalu menyangkal. Rupanya kau tak merasa memberi harapan yang ternyata hanya palsu belaka. Namun aku tak putus asa. Aku selalu mengingatkanmu tentangnya.

Hari ini, masih dengan cara dan gaya yang sama kau kembali datang. Kau berusaha sekuat tenaga merayu dan membawaku pergi. Apa kau kira aku telah lupa? Tidak. Dirimu bersama janji gombalmu ke laut saja!

#Kampung Pentigraf

Hal Ikwal di larang berenang

HAL IHWAL LARANGAN BERENANG

Di darat tak berani di laut pun segan, itulah yang dirasakan Duyung. Paras jelitanya berurai air mata, mengutuki tubuhnya yang manusia bukan, apalagi ikan. Wujud itu membuat ia dibenci seluruh warga samudera. Sore itu Duyung duduk di sela karang memandang matahari senja, meratapi nasib sambil sesekali ekornya menepukkan air yang memercik ke tubuh dan wajahnya, menutupi tangisnya.

Dari jauh nampak Kunina, seekor umba-lumba yang selama ini dipanggil ibu, mendekati Duyung. Melihat kesedihan putri angkatnya, dengan terbata-bata Kuni membuka tabir tentang asal-usul Duyung. Gadis setengah ikan itu hanya dapat merenungi nasibnya ketika jati dirinya terkuak. Rupanya Duyung terbentuk dari sperma seorang penyelam laki-laki yang masuk ke rahim ikan tuna betina saat berenang di salah satu palung laut.

Tak dinyana, percakapan mereka dicuri dengar oleh seorang perempuan dari jagat daratan yang waskita dan linuwih. Ia memahami segala bahasa, baik hewan bahkan tumbuhan. Tanpa ada yang tahu awal mulanya, di kemudian hari jagat daratan digemparkan oleh adanya larangan berenang dengan lawan jenis dalam satu kolam karena dapat menyebabkan kehamilan.

Yogyakarta, Februari 2020

(Gambar adalah pemanis)

Pelakor

Pelakor

Baru saja Lian menutup telepon genggamnya, setelah ber_videocallan_ dengan Faizal. Rere, istri Faizal, langsung menelpon dan mencecarnya dengan perkataan menusuk. Caci maki terpaksa Lian dengar, alih-alih mengabaikannya. Pernah beberapa kali Lian menolak panggilan rivalnya itu. Rere langsung mendatangi di mana pun tempatnya. Seperti memiliki detektif, Rere selalu tahu di mana keberadaan Lian. Alhasil saat itu juga ia dipermalukan.

"Dasar pelakor! Tinggalkan mas Faizal, perempuan sundal," maki Rere, sambil menampar, dan menganiaya Lian. Sayang, bukan perkataan atau tindakan Rere yang menyakiti Lian. Tetapi, tatapan orang sekitar yang menyaksikan pertengkaran mereka.

Cap pelakor melekat di diri Lian. Masih jelas dalam ingatan serangan para _netizen_. Tatkala Rere memposting pertengkaran mereka ke _medsos_. Dipersenjatai tangisan anaknya, Rere membuat Lian semakin terpojok. Lian mafhum, untuk siapapun yang membencinya. Semata, karena tidak tahu kejadian sebenarnya. Bukan Lian yang merebut Faizal, justru Rerelah yang merebut suami, dan ayah dari anak-anaknya. Sedang anak yang Rere miliki itu, anak dari suaminya terdahulu. Hingga akhirnya Lian dan Faizal memutuskan kembali demi anak, juga rasa yang pernah menyatukan mereka dulu.

D'Serly
SMD 25 Februari 2020.

Pembunuh Bayaran

Pembunuh Bayaran

Detik ini juga aku menjadi pesakitan. Bukan lagi tuduhan tanpa bukti, semua tergambar jelas di depan mata. Seperti yang sudah-sudah, menyesal, dan berjanji tak'kan mengulanginya. Namun, janji tinggallah janji. Kali ini aku harus benar-benar bertaubat. Keutuhan rumah tanggaku menjadi taruhannya. Sekarang, bukan lagi istri yang harus kuhadapi, tetapi ke dua keluarga besar.

"Kapokmu kapan?" Untuk kesekian kalinya pertanyaan itu ditujukan ke padaku. Ibu, juga istriku tak pernah bosan mengulang pertanyaan yang sama. Kata maaf pun terucap oleh lisanku, kemudian berjanji untuk menyenangkan ke duanya.

Ketika vonis itu dijatuhkan padaku. Hanya bisa pasrah, menerima sebab akibat yang harus kutanggung. Mungkin, akan kusesali di sisa hidup ini. Sambil menunggu saatnya tiba, izinkan aku mengadu, dan mengeluh pada-Mu. Tentang penemuan makhluk-Mu yang bernama manusia. Menciptakan pembunuh bayaran nomor satu di dunia. Karena, setiap hisapan yang kunikmati menjadi racun dalam tubuhku. Maafkan aku Tuhan, selalu saja gagal melewati ujian-Mu, hingga terus berulang. Lalu, masih pantaskah aku berharap keajaiban dari-Mu?

Yang mo korsan, bahkan krisan ... sok, mangga diantosan 🤩

Kutundukkan

#Belajarpentigraf

KETUNDUKAN

Selalu di jalan Cendrawasih. Ada yang melintas di hatinya, bukan dipikiran. Sambil menggendong si kecil, Dian dibonceng Irfan, meneteskan air mata menikmati dialog hatinya. (Ya Rabb, bagaimana  jika Engkau persaudarakan aku? Tapi siapa aku, ibadahku hanya seperti ini, akhlakku, apalagi ekonomi … aah. Tapi Rabb jika Engkau menghendaki, aku hanya bisa tunduk). Cepat ia beristigfar dan memegang erat pinggang suaminya.

Si kecil sudah berusia 16 tahun, ketika Dian duduk dihadapan Bunda Asma istri Ustad Hanif. “Mba, apa alasannya mengijinkan suami menikah lagi?” Dian tidak menyangka mendapat pertanyaan demikian, ia berfikir keras mencari jawaban. Sesungguhnya ia benar-benar tidak paham. “Gimana ya Bun, Allah-kan menyuruh saya, masa saya menolok perintahnya.” Pen, hanya itu yang ada di benaknya, sama sekali tidak menemukan jawaban apapun. Dian merasa dirinya seperti orang bodoh.

Dian menganggukan kepala dan melambaikan tangan, melepas kepergian Irfan dan Ria (istri suaminya juga). Dian sangat mencintai keduanya, doa kebaikan sempat dipanjatkan. Sesuatu mengusik hatinya, siapa aku, tidakkah Engkau keliru memilih aku untuk tugas ini? Hatinya semakin tidak tenang, sampai akhirnya istigfar menguasi dirinya. Ampuni hamba yang telah menyangsikan keputusan-Mu ya Rabb.

Dau, 26 Februari 2020

Terimakasih sudah diperkenankan gabung di KAMPUNG PENTINGGRAF

Malam Yang Sedih

MALAM YANG SEDIH

Mata Aini bengkak dan sembab. Tak terbayangkan jika ini akan menjadi pagi terburuk dalam hidupnya. Bagaimanapun kisah tragis Lili, teman sekelasnya, yang selalu murung dan hampir setiap hari menangis adalah gambaran gelap tentang sebuah korban perceraian.

Dari tengah malam hingga dini hari Aini duduk di ruang tamu, menangis dan terus menangis. Ditatapnya pintu kamar orang tuanya, menunggu terbuka. Ia akan memohon agar mereka tetap bersama. Aini hanyalah anak kelas empat SD. Dengan dua orang adik yang masih kecil, ia merasa dunia akan berakhir jika ayah ibunya berpisah.

Sekitar pukul empat pagi pintu kamar itu terbuka. Ayah keluar kamar dan langsung disambut Aini yang memeluknya sambil menangis. Agak kaget dan keheranan, Ayah menanyai mengapa Aini menangis begitu rupa. "Tadi malam, sewaktu hendak pipis, Aini mendengar suara-suara dari kamar. Dan Ayah bilang... Bu, keluar Bu.. Keluar... . Aini mohon, Ayah jangan usir Ibu ya, jangan... ," papar Aini terbata-bata. Ayah terdiam sambil melirik Ibu yang menyembul dari balik pintu. Mereka bingung hendak bilang apa.

Yogyakarta, Februari 2020.