Pengikut

Sabtu, 13 Juni 2020

Kedatangan dan peyebaran cina di Blang Pidie

Kedatangan dan Penyebaran Cina Di Blang Pidie 

Kedatangan cina di Blang Pidie berdasarkan sumber oral History dan Said abu bakar dalam bukunya Berjuang untuk Daerah. Otonomi Hak Azasi insani yang diterbitkan oleh Yayasan Naga Sakti  Banda Aceh pada tahun 1995.  Berdasarkan oral History yang pernah diketahui disebutkan bahwa kedatangan Cina pada awalnya dikarenakan keterlibatan mereka dalam pembangunan tangsi Belanda di Kuta Batee (Blang Pidie) dan pembangunan rumah Uleebalang Susoh Datuk Nyak Raja. Hal itu diperkuat dengan keberadaan Datuk Nyak Raja yang merupakan seorang Uleebalang dan merangkap sebagai seorang kontraktor yang sukses karena kedekatannya dengan Kolonial sehingga ia juga dipercaya dalam pembangunan tangsi militer Belanda di kota Blang Pidie sekitar tahun 1900. Selain itu ia juga dipercaya oleh Belanda dalam pembangunan jalan raya mulai dari Blang Pidie hingga ke Seumayam, di perbatasan dengan Nagan Raya sekarang. 

Pada saat itu Belanda banyak mempekerjakan para buruh dan pekerja dari Cina didalam pengerjaan konstruksi bangunan bahkan rumah pribadi Datuk Nyak Raja di Pante Pirak Susoh ( yang pernah digunakan sebagai kantor Komisi Independen Pemilhan umum Kabupaten Aceh Barat Daya)  juga dibangun oleh tukang tukang dari Cina. Sejak saat itu bamyaklah datang pedagang cina terutama dari Sibolga dan Padang untuk dapat berdagang disana. 

Sejak adanya tangsi Belanda di Kuta Batee Blang Pidie maka dimulailah aktivitas Kolonial Belanda di Blang Pidie dan saat itu pula aktivitas Cina di kota ini dalam membangun komunitas  usaha dan perdagangan disekitar tangsi yang digunakan sebagai pasar tradisional dalam mempertemukan antar pembeli dan penjual, walaupun keberadaan mereka saat itu masih sangat sedikit. Sejak penandatanganan Korte verklaring di Pulo kayee oleh pengampu Kuta Batee Raja Sawang maka sejak tanggal 9 Maret 1874, penggantian nama kota ini menjadi Blang Pidie dimulai. Seiring dengan semakin membaiknya pertumbuhan kota Blang Pidie yang ditopang oleh perekonomian yang berbasis pertanian sawah pada masa lalu sehingga terkenal dengan "brand image" sebagai daerah breuh Sigupai yaitu satu jenis varietas padi unggulan di daerah itu yang sangat terkenal keseluruh Aceh bahkan luar daerah seperti Singkil dan Sumatera Barat. Munculnya plantation perkebunan kelapa sawit dan karet di perkebunan Seumayam membuat denyut perekonomian di kota Blang Pidie semakin membaik dan stabil. Hal ini ikut mendorong semakin ramainya komunitas pedagang di kota Blang Pidie pada saat itu, sehingga Blang Pidie tumbuh sebagai pusat keramaian dan aktivitas perdagangan lokal yang difasilitasi dengan pasar, sekolah, usaha pertanian, perkebunan, pertukangan, dan peternakan. Sejak saat itu pusat kota Blang Pidie didatangi investor yang ingin berdagang disana termasuk keberadaan pedagang Cina. Mereka menempati toko - toko di sekitar tangsi seperti jalan perdagangan, jalan Sentral, jalan persada dan sedangkan pedagang lokal lebih banyak berkonsentrasi di sekitar pasar ikan lama dan jalan selamat di kota Blang Pidie. 

Permasalahan utama yang kerap terjadi di kota Blang Pidie adalah kebakaran, dimana di kota ini telah terjadi berulang kali kebakaran yang menghanguskan kota ini karena disebabkan pengguna konstruksi bangunan pertokoan yang berbahan baku kayu. Hal ini, menyebabkan sering terjadi perubahan pada struktur "wajah"  bangunan toko sehingga tidak diketahui wujud asli keseluruhannya lagi kecuali deretan toko yang membanjar dari Barat ke Timur dijalan selamat yang dapat bertahan, hingga akhirnya satu persatu mengikuti konstruksi permanen dengan pola bangunan ruko yang berlantai satu, dua bahkan sampai tiga seperti sekarang ini. Sejak tahun 2000 an pasca kebakaran besar tahun 1998, sekarang ini selain berdagang, mereka juga mengusahakan sarang burung walet pada bagian tertinggi toko yang berlantai tiga dan empat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar